TERORISME, AGAMA DAN BUDAYA
Penyergapan yang dilakukan pemerintah menjadi bukti betapa seriusnya ancaman terorisme pada kondusifitas keamanan, bahkan Negara adidaya seperti Amerika memberikan iming-iming jutaan dollar untuk penangkapan hidup ataupun mati
Seringkali sebuah kasus peledakan atupun terror dilatarbelakangi oleh kelompok tertentu yang berusaha membumikan ajaran-ajaran atau bahkan fatwa interpretasi dari jihad sedangkan jihad sendiri merupakan sebuah doktrin atau teks suci dari agama (meminjam istilah antropologi). Parsudi suparlan mendevinisikannya (1988) “Agama, secara mendasar dan umum, dapat didefinisikan sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia gaib, khususnya dengan Tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan manusia dengan lingkungannya”. manusia sendiri yang meyakininya dan khususnya kegiatan-kegiatan manusia penganut agama tersebut tidak tercakup dalam definisi tersebut. Dalam al Quran sendiri tidak pernah tertulis secara tekstual tata cara bahkan waktu-waktu pelaksanaan shalat, kemudian para fuqoha (ahli fikih) menginterpretasikan teks atau ayat menjadi sebuah hukum serta kaidah-kaidah tertentu dan itulah yang disebut ijtihad, sehingga kemudian timbul gagasan para antropolog bahwa agama sebagai budaya seperti tulisan Clifford Geertz yang berjudul Religion as a Cultural System, dengan demikian pemahaman seseorang terhadap agamanya—lah yang menjadi blue print atau panduan dalam hidup, bukan agama yang secara tekstual. Pemahaman kelompok-kelompok tertentu terhadap sebuah teks keagamaan dipengaruhi karakter dan pola hidup seseorang yang membentuk kepribadian seperti ungkapan Ibn Khaldun dalam mukadimah
Setiap kelompok keagamaan terbangun diatas fundamen ideology tertentu yang merupakan hasil dari sebuah interpretasi terhadap teks agama. Sebenarnya jam’iyyah atau perkumpulan tertentu baik lama ataupun baru tidaklah masalah selama Idea yang mendasari merupakan sesuatu yang obyektif sebagaimana plato menghendaki idea-idea, terlepas dari subyek yang berfikir. Pada masa awal Dunia Islam Tiga bidang utama khazanah peradaban Islam, yaitu fikih, teologi/kalam, dan tasawuf, penuh dengan gerakan, golongan, dan mazhab yang pada awalnya baru. Namun bukan lain Dasar dan tujuan ajarannya adalah mencapai budi baik atau akhlakul karimah seperti yang diajarkan Nabi Muhammad S.A.W. dan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta.

